31 Mar 2013

Beginilah Cara Memilih Obat2an Herbal Yang Benar

Ilmuan dari King's College, Inggris menemukan fakta bahwa obat herbal memang memiliki manfaat, tetapi juga mengancam ginjal dan kanker darah. Merespon temuan itu, ahli kesehatan dr. Raden Furqon menjelaskan bahwa obat-obatan termasuk jamu yang berasal dari tumbuh-tumbuhan tersebut tetap memiliki efek samping layaknya obat kimia.


“Pernyataan obat herbal tanpa efek samping hanyalah akal-akalan dari produsen yang hanya memikirkan profit tanpa memikirkan dampak negatif,” ujarnya. Namun, kampanye tanpa efek samping itu tertanam dalam benak masyarakat.

Dia memaparkan, dalam satu macam ramuan obat herbal, bisa terdapat beragam zat aktif senyawa obat, walau dalam jumlah kecil. Tapi jika diminum dengan takaran tidak tepat, efek samping bisa muncul. Organ yang jadi korban, biasanya lambung, hati, ginjal, dan saluran kencing. Bisa juga terjadi reaksi alergi, fotosensitifitas, dan gangguan tidur.

Karena itu, lanjut dr Fuqon, obat herbal tidak bisa diminum sembarangan. Apalagi respons tiap individu bisa berbeda. Lagi pula, tidak semua obat herbal cocok bagi setiap orang meskipun keluhannya sama.


Obat Herbal vs Obat Kimia

Dokter Furqon menegaskan, obat herbal bekerja langsung pada sumber penyakit. Obat ini memperbaiki keseluruhan sistem tubuh, memperbaiki sel, jaringan, dan organ tubuh yang rusak, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk berperang melawan penyakit. Walaupun obat herbal memiliki reaksi lambat, obat ini tetap efektif untuk penyakit kronis yang sulit diatasi dengan obat kimia.

Sementara obat kimia lebih banyak bertujuan untuk mengobati gejala penyakitnya dan hanya mampu memperbaiki beberapa sistem tubuh. Efek sampinyanya lebih sering terjadi. Kelebihannya adalah reaksinya  yang cepat.

“Tapi obat kimia hanya memperbaiki beberapa sistem tubuh,” tuturnya. Karena itu, dr Furqon menambahkan, obat kimia relatif kurang efektif bagi penyakit kronis. Diperlukan terapi sampingan berupa diet makanan dan perlakuan tertentu pada tubuh seperti operasi dan manajemen stres.

Dari sisi keamanan, obat kimia yang beredar dan terdaftar resmi dapat dipastikan ditunjang dengan data ilmiah dan telah lulus uji klinis, baik pada binatang percobaan ataupun pada manusia. Dengan begitu, dari sisi keamanan bisa dipertanggungjawabkan. Namun obat kimiawi bisa lebih berbahaya daripada obat herbal apabila dikonsumsi tidak sesuai aturan atau bila diberikan oleh bukan ahlinya.

Sedangkan obat herbal terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah jamu, yang tidak memerlukan pembuktian ilmiah maupun klinis. Jenis kedua adalah herbal terstandar yang ditunjang dengan penelitian ilmiah. Kelompok ketiga adalah fitofarmaka yang ditunjang dengan bukti ilmiah sampai uji klinik pada manusia.

Mana yang lebih baik antara obat herbal atau obat kimia, dr. Furqon memaparkan, semua itu tergantung pada situasi dan kondisi. Misalnya pada kasus perdarahan dan rasa sakit. Dalam hal ini, obat kimia yang harus dipilih, karena reaksinya yang cepat.

Sedangkan obat herbal lebih dititikberatkan pada peningkatan efektivitas pengobatan, sekaligus mengurangi efek samping yang ditimbulkan obat kimia. Karena itu, sebaiknya obat herbal atau tradisional digunakan untuk menjaga kesehatan atau pemulihan penyakit. “Untuk penyembuhan penyakit gunakan obat resep dokter,” sarannya.


Memilih Obat Herbal yang Aman

Alumni Kedokteran Universitas Padjadjaran ini menuturkan, pada tahap awal penggunaan obat herbal, biasanya ada efek mual, perut seperti dikocok-kocok, bahkan terasa pusing. “Tapi jangan khawatir, itu efek penyesuaian tubuh dan akan segera hilang,” ujar pria penerimaan penghargaan Dokter Teladan 1 Tingkat Nasional dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pad 2001 itu.

“Selain efek penyesuaian, akan ada efek detoksifikasi. Tubuh mengeluarkan racun atau zat berbahaya dari dalam tubuh setelah pengobatan,” tambahnya.

Kalaupun ingin mengonsumsi obat herbal, dr. Furqon mengingatkan untuk memperhatikan sejumlah hal berikut:

1. Produk herbal dinyatakan aman apabila sudah dapat dibuktikan secara ilmiah keamanannya melalui serangkaian uji keamanan: uji toksisitas dan uji teratogenik.

2. Pastikan obat herbal tersebut sudah mendapat izin edar resmi dan dibeli dari produsen dan sumber terpercaya.

3. Obat herbal belum tentu aman untuk anak-anak, remaja, usia lanjut, ibu hamil, ibu menyusui, ataupun pasien dengan kanker dan pasien bedah.

4. Pengobat tradisionalnya mengerti dan mengetahui anatomi tubuh manusia dan mengerti keadaan fisiologi manusia.

5. Hati-hati obat palsu dan atau kadaluarsa.

6. Gunakan sesuai aturan atau petunjuk, jangan berlebihan.

7. Hati-hati bila dikonsumsi bersamaan dengan obat kimia. Tidak jarang produsen yang hanya ingin mencari keuntungan semata mencampur antara obat herbal dan kimia tanpa data ilmiah. Ini akan sangat berbahaya.

8. Jangan segan bertanya kepada ahli herbal tentang penggunaannya, karena tidak semua obat herbal cocok untuk setiap orang meski keluhan sama.

9. Perlu mengetahui makanan, minuman, obat-obatan dan aktivitas apa saja yang harus dihindari sewaktu minum obat herbal.


Obat Herbal yang Berbahaya

Selain yang tidak memenuhi kriteria di atas, obat herbal juga akan menimbulkan efek samping yang sangat berbahaya bila dicampur bahan kimia. Contohnya:

1. Dicampur steroid obat untuk meningkatkan nafsu makan.
2. Dicampur steroid dan analgetik obat untuk menahan rasa sakit: asam urat, rematik, sakit sendi, serta lainnya.
3. Dicampur sidenafil, yaitu obat kuat lelaki.

“Anehnya obat-obat di atas adalah obat yang sangat laku pesat di pasaran,” paparnya.<sip>********
***Oleh: Erly Susana **

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Coretannya yang ditunggu untuk kebaikan bersama....