9 Agu 2012

Tokoh Islam Dari Wali Sanga Sunan Kalijaga

Cerita bersambung konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar
“Kangjêng Sayidina Abu Bakar, disadarinya ada pada darahnya. Yang memberikan hidup dengan sifat cairnya. Sifat yang tidak kaku, yang lembut. Begitulah dirinya, yang telah mampu memberikan hidupnya dengan penuh kelembutan, cermin dari Ar Rahim (Maha pemberi)-Nya
   
“Kangjêng Sayidina ‘Ali dia sadari ada pada kulitnya. Yang memperindah tubuh, menutupi daging dan tulang. Menampilkan kecantikan dan kesempurnaan. Begitulah dirinya, yang telah mampu menjadi cerminan dari Al Jamal (Maha cantik) dan Al Kamal (Maha sempurna)-Nya.
   
“Sedangkan Sayidatina Fatimah, disadarinya ada pada sumsum tulangnya. Memberikan peneguhan dari dalam, tanpa terlihat. Begitulah dirinya yang telah mampu menjadi cerminan Al Bathin. Dan Sayidatina Aminah disadari ada pada gerak tubuhnya, yang membuat semua bisa beraktifitas dengan penuh keteraturan. Begitulah dirinya yang telah segala-galanya tiada lain adalah Af'al (perbuatan Allah)-Nya
   
Susuhunan Kalijaga menyapukan padangannya ke arah anak muridnya.
   
“Cahyaku ya Muhammad, panduluku Rasul. Cahaya kesadarannya adalah cahaya dari Yang Terpuji, dan penglihatan kesadarannya adalah penglihatan dari Sang Utusan. Yang Terpuji dan Sang Utusan, Muhammad Rasulullah, tak lain adalah Ingsun ini.”
   
Santri Susuhunan Kalijaga mengangguk-angguk takzim.
   
“Dan apa yang tengah dialami oleh jêbeng Jangkung, seyogyanya kalian insyafi pula pada diri kalian!”
   
Para santri memberikan sembah.
   
“Matahari sudah bergerak ke barat, kita lanjutkan perjalanan. Kita akan ke Gunung Murya dulu.”
   
Semua mengangguk patuh.
   
Susuhunan Kalijaga yang terlahir dengan nama Pangeran Santikusuma atau Raden Sahid, adalah putra kedua dari Pangeran Santibadra, seorang keturunan Bhre Lasêm I, Rajasadhuhita Indhudewi, adik Bathara Prabhu Hayam Wuruk, Raja Majapahit yang kesohor itu.
   
Bhre Lasêm I Rajasadhuhita Indhudewi yang dinikahi oleh Raden Larang atau Rajasawarddhana melahirkan Raden Badrawarddhana. Raden Badrawarddhana melahirkan Raden Wijayabadra. Raden Wijayabadra melahirkan Raden Badranala. Raden Badranala melahirkan Pangeran Wirabraja dan Pangeran Santibadra.
   
Pangeran Santibadra menikahi Raden Ayu Rêtna Dumilah, putri kedua Adipati Tuban V Arya Adikara yang memerintah Tuban pada 1404-1450. Semenjak itu, Pangeran Santibadra yang diangkat sebagai Rakryan Tumênggung Tuban, memperoleh gelaran Tumênggung Wilwatikta.
   
Pada 1448, putra pertama Pangeran Santibadra atau Tumênggung Wilwatikta lahir di Lasêm, ketika huru-hara di Tuban tengah terjadi. Putra ini diberi nama Pangeran Santipuspa. Dua tahun kemudian, pada 1450, lahir putra kedua beliau, diberi nama Pangeran Santikusuma.
   
Kelahiran Pangeran Santikusuma bertepatan dengan diangkatnya ayahnya, Pangeran Santibadra menjadi Adipati Tuban ke V menggantikan mertuanya. Ketika Pangeran Santikusuma kecil mulai belajar mengaji, dia mendapat sebutan Radeh Sahid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Coretannya yang ditunggu untuk kebaikan bersama....